Jumat, 12 Maret 2010

Obyek Wisata Candi Sukuh;







A. Latar Sejarah
Komplek Candi sukuh merupakan candi berlatar belakang agama Hindu,hal ini diketahui dari ditemukannya lingga dalam bentuk naturalis berukuran besar dikomplek tersebut.Berdasarkan prasati yang terdapat pada bangunan,arca dan relief,yang berkisar antara 1359 saka atau 1437 masehi -1378 saka atau 1456 masehi diperkirakan candi didirikan pada abad XV M.Meskipun berlatar belakang hindhu namun terlihat bahwa
bentuk bangunannya cenderung kembali pada masa prasejarah,terutama bentuk punden n
berundak.Berdasarkan relief yang terdapat dikompleks candi sukuh yang menceritakan
tentang Garudeya dan Sudhamala diperkirakan candi tersebut berhubungan dengan
upacara pelepasan atau ruwatan berhubungan dengan kepercayaan arwah leluhur
yang tanpa pada susunan bangunan dalam bentuk teras berundak pada masa prasejarah.

B. Riwayat Penelitian

Kompleks tersebut ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta,Johnson.Tahun 1842 Van der Vlis mengadakan penelitian terhadap
Sisa-sisa bangunan dicandi sukuh,Hoepermans tahun 1864-1867 menuliskan tentang
Sukuh.Inventarisasi dilakukan oleh knebel tahun 1910,dan beberapa literature
Yang memuat tentang sukuh.Baru pada tahun 1917 dilakukan penanganan oleh
Pemerintah RI ,melalui Dinas Purbakala.Pemugaran dilakukan pada tahun 1928 oleh
Suaka Peninggalan Sejarah dan purbakala jawa tengah.Beberapa kegiatan penelitian
Arkeologis juga dilakukan oleh para ahli dari Indonesia seperti Ph.Soebroto,Riboet
Darmosoetopo,J.Padmopuspito,dll.Sedangkan penelitian secara Geologis juga pernah
Dilakukan oleg BSKB Borobudur.


C. Deskripsi
1. Secara Administrasi
Candi Sukuh terletak didusun Sukuh,desa Berjo,Kecamatan Ngargoyoso
Kab Karanganyar,Propinsi Jawa Tengah.Candi ini berada pada ketinggian 1.186
M diatas permukaan laut
2. Secara Geografis
0737,38’85” LS dan 11107,52’65”BB.
Kompleks candi Sukuh merupakan suatu komples bangunan yang berteras,
Mengingatkan bentuk bangunan punden Berundak,Teras dikompleks tersebut
Terdiri dari 3 teras/halaman yang masing-masing dibatasi oleh pagar.Halaman
Paling suci terdapat diteras ketiga.Atau paling belakang terletak di candi utama
Yang menghadap kearah barat.




Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu yakni di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.
Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarganegara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), dimana semakin kebelakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidakmungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.

Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama !
Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.
Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari.di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”.Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.
Pada lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.
Secara keseluruhan, mengunjungi objek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief2-nya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa

Obyek Wisata Tawangmangu-Candi sukuh-Argowisata sondokoro




Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kecamatan ini ternama karena merupakan daerah wisata yang sangat sejuk. Terletak kurang lebih 37 km timur kota Solo. Tawangmangu dikenal sebagai obyek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Kota Surakarta (Solo). Tempat ini sejak masa kolonial Belanda telah menjadi tempat berwisata. Obyek tujuan wisata utama adalah Air Terjun Grojogan Sewu (tinggi 81 m). Di tempat tetirah ini tersedia berbagai sarana pendukung wisata seperti kolam renang dan berbagai bentuk penginapan. Obyek wisata Tawangmangu memiliki daya tarik keindahan yang memukau dan sangat indah.

Letak geografis Kabupaten Karanganyar terletak antara 110º 40' BT - 110º 70' BT dan antara 7º 28' LS - 7º4 6' LS dengan luas wilayah mencapai 772,20 km². Tawangmangu menyuguhkan kenikmatan panorama alam yang indah dengan udara sejuk yang sungguh mempesona.

Ketinggian Air Terjun Tawangmanggu ini mencapai 1.100 meter di atas permukaan air laut, memiliki keindahan yang menakjubkan untuk dinikmati wisatawan. Panorama air terjun alami setinggi 81 meter ini berada di tengah hutan lindung yang didiami oleh satwa kera yang jinak, arealnya sangat luas dan sejuk, lengkap dengan fasilitas rekreasi keluarga seperti kolam renang dengan sirkulasi air alami, arena perkemahan, taman rekreasi, kios souvenir, rumah makan dan berbagai kopel peristirahatan.

Di Tawangmangu daerah sekitarnya berupa hutan pinus yang sangat banyak. Dimana hutan ini sebagai tempat hidupnya monyet-monyet di Tawangmangu. Sehingga kelestarian hutan pinus ini harus selalu dijaga untuk menjaga kelestarian fauna langka ini.

Di area lokasi pariwisata ini terdapat kolam renang untuk orang dewasa dan anak-anak. Selain itu juga alat-alat permainan untuk anak-anak kecil dari ayunan hingga jungkat-jungkit.

Untuk menuju obyek wisata Tawangmangu mudah ditempuh dengan kendaraan pribadi roda empat maupun roda dua dan angkutan umum dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum (bis) untuk menuju lokasi obyek wisata Tawangmangu. Jika ingin menggunakan kendaraan umum, pengunjung bias naik bis besar jurusan Solo-Tawangmangu dari terminal Tirtonadi Solo dengan tarif sekitar Rp 7.500,00. Rute yang dilalui adalah Solo-Karanganyar-Karangpandan-Tawangmangu. Perjalanan dari kota Solo sampai di lokasi biasa di tempuh selama sekitar satu setengah jam. Sesampainya di terminal Tawangmangu, pengunjung yang menggunakan bis umum perlu berjalan kaki sepanjang kuranglebih satu kilometer untuk dapat mencapai lokasi obyek wisata. Atau juga biasa naik kendaraan umum L300. Ada dua pilihan pintu masukke dalam lokasi obyek wisata yaitu pintu 1 yang ada di bagian puncak dan pintu 2 yang ada di lereng bawah.

Prasarana dan Sarana sebagai pendukung kepariwisataan Obyek wisata Tawangmangu, antara lain Adanya Hotel dan Restoran,Biro Perjalanan Wisata / Umum,Kerajinan Cinderamata

Taman, Binatang Hutan, Kolam Renang, Shelter, Warung Makan, Kios Buah-buahan, Cinderamata, Mushola, penyewaan kuda dan MCK

Berbagai jenis atraksi Wisata dan Kesenian : Seni Musik Bambu "Tek-tek", Reog, Seni Karawitan, Tari, Wayang Orang / Kulit dan Campursari.

Penduduk sekitar obyek wisata Tawangmangu mempunyai mata pencaharian yang bervariasi yakni petani, buruh tani, pengusaha, buruh industri, buruh bangunan, pedagang dan lain sebagainya.. Dari tahun ke tahun kondisi mata pencaharian penduduk Tawangmangu berubah-ubah. Hal ini terjadi karena Tawangmangu memiliki Sektor yang menjadi andalan yaitu sektor pertanian dengan agrobisnis, perkebunan, dan pariwisata. Komoditas unggulan diantaranya jeruk keprok Tawangmangu, duku Matesih, durian, ace, salak Tawangmangu, ketele rambat, ubi kayu, kacang tanah dan jagung kuning sebagai hasil dari perkebunan dan agrobisnis

Salah satu menu favorit di Grojogan Sewu adalah sate kelinci yang biasa dijajakan di sekitar lokasi air terjun. Biasanya, penjualnya menyediakan tikar untuk menikmati sate kelinci secara lesehan. Harganya hanya 5000 sampai 6000 rupiah saja. Cukup murah dan nikmat. Apalagi jika disertai dengan teh hangat.


 

Blog Template by YummyLolly.com - Header made with PS brushes by gvalkyrie.deviantart.com
Sponsored by Free Web Space